Cara Menentukan Anggapan Dasar & Contohnya

AsikBelajar.Com | Seseorang yang masih merasa ragu-ragu terhadap sesuatu hal, tentu saja tidak dapat dengan pasti menentukan anggapan bagi hal tersebut.

Sebagai contoh, apabila kita tidak memahami keadaan suatu daerah, kita tidak dapat menentukan anggapan bahwa daerah tersebut dihuni oleh banyak mahasiswa. Jadi kita tidak dapat dengan pasti menentukan daerah tersebut sebagai wilayah penelitian yang menyangkut masalah-masalah mahasiswa.

Nah, bagaimana kita bisa tahu bahwa suatu daerah banyak dihuni oleh mahasiswa? Untuk menjadi tahu terhadap sesuatu, caranya bermacammacam:

1. Dengan banyak membaca buku, surat kabar atau terbitan lain. Dalam hal ini Prof. Drs. Sutrisno Hadi, M.A. mengklasifikasikan bahan pustaka (yang disebut sumber acuan) menjadi dua kelompok yaitu:

a. Sumber umum: buku teks, ensiklopedi, dan sebagainya.

b. Sumber acuan khusus: buletin, jurnal, periodikal (majalah-majalah yang terbit secara periodik), disertasi, skripsi, dan sebagainya.

Dari sumber acuan umum dapat diperoleh teori-teori dan konsep. konsep dasar, sedang dari sumber acuan khusus dapat dicari penemuan-penemuan atau hasil penelitian yang sudah dan sedang dilaksanakan.

2. Dengan banyak mendengarkan berita, ceramah, dan pembicaraan orang lain.

3. Dengan banyak berkunjung ke tempat.

4. Dengan mengadakan pendugaan mengabstraksi berdasarkan perbendaharaan pengetahuannya.

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa asumsi dasar, postulat atau anggapan dasar harus didasarkan atas kebenaran yang telah diyakini oleh peneliti.

Sebagai bahan pendukung anggapan dasar, peneliti sebaiknya melakukan studi perpustakaan untuk mengumpulkan teori-teori dari buku maupun penemuan dari penelitian. Apa yang sudah dibaca Sebaiknya ”langsung dicatat pada kartu-kartu. Cara ini sering disebut dengan istilah pencatatan dengan sistem kartu. Bahan-bahan yang Sudah dibaca, dituliskan pada sebuah kartu dengan topik subyect matter atas bagian dari permasalahannya. Pada setiap kartu dicantumkan sekaligus sumber keterangan yang diambil agar tidak ada kesulitan apabila bukunya pinjaman atau sukar ditemukan kembali tempatnya. Oleh karena itu, penulisannya harus lengkap, agar tidak perlu membuka buku sumbernya lagi.

Kartu yang digunakan dapat dibuat dari kertas manila bewarna. Untuk masalah yang sama dapat digunakan kartu sewarna. Misalnya untuk ”prestasi belajar” kartu warna biru, untuk ”pengelolaan kelas" kartu warna kuning, dan sebagainya. Ukuran kartu dapat dibuat sekehendak hati, misalnya 15x 10 cm (1/4 ukuran folio). Jika diperlukan kutipan yang agak panjang dapat digunakan dua atau tiga kartu, dengan tanda-tanda lanjutan. Tanda halaman 1-4 artinya kartu tersebut adalah kartu pertama dari satu kutipan yang termuat dalam empat kartu.

Kartu-kartu yang sudah diisi, disusun menurut abjad dalam sebuah kotak sehingga memudahkan penelitian dalam membandingkan mengelompokkan dan menelaah kembali bahan-bahan tersebut.

Merumuskan suatu anggapan dasar, bukanlah pekerjaan yang mudah. Ini membutuhkan suatu pemikiran, renungan dan analisis masalah, sehingga boleh jadi bisa dianggap sukar bagi siapa saja, terutama yang belum terbiasa meneliti. Untuk ini diperlukan latihan, membiasakan dan banyak melihat contoh-contoh.

Contoh:

Judul penelitian:

Studi tentang Peranan Orang Tua terhadap Pilihan Profesi Anak SMA seDaerah Istimewa Yogyakarta.

Anggapan dasar yang dapat dirumuskan antara lain:
1. Hubungan antara anak dengan orang tua cukup erat.

2. Anak tahu keadaan orang tuanya (pendidikan, pekerjaan, cita-cita terhadap dirinya, dan sebagainya).

3. Anak SMA sudah memahami berjenis-jenis profesi yang ada, baik dalam wilayah yang sempit maupun wilayah yang luas.

Contoh:

Diambil dari penelitian yang diadakan oleh Dra. Aswarni Sudjud dengan judul:

Studi tentang Murid Mengulang Kelas di Kelas lil Sekolah Dasardi Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, Daerah lstimewa Yogyakarta 1979-1980.

Anggapan dasar yang diajukan antara lain:

1. Ada anak mengulang kelas di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.

2. Prestasi belajar murid, termasuk murid-murid kelas III dan kelas IV SD bervariasi.

3. Latar belakang guru sekolah dasar berbeda-beda (pendidikan dan pengalaman mengajarnya).

4. Latar belakang sosial murid seperti pendidikan dan pekerjaan orang tua dan lain-lain berbeda-beda.

Contoh:

Diambil dari penelitian disertasi Prof. Dr.-Winarno Surakhmad M.Sc. dengan judul:

Konsep Aku dan Aspirasi Beberapa Kelompok Adolesen Indonesia dalam Rangka Pembinaan Tugas-tugas Perkembangan Sosial.

Anggapan dasar yang diajukan adalah:

1. Pengalaman hidup dan tingkat perkembangan para adolesen merupakan kondisi yang mempengaruhi kepekaan timbulnya kesadaran tugas perkembangan sosial mereka.

2. Konsep Aku didalam arti yang luas (fisik, sosial, psikoseksual, ideal) dari para adolesen mempengaruhi sikap dan tingkah laku sosial mereka.

3. Tingkat aspirasi adolesen dipengaruhi oleh peranan status sosial yang diidentifikasikan oleh mereka.

4. Perkembangan adolesen tidak dengan sendirinya tersinkronisasi dan tertuju kepada tugas-tugas perkembangan sosial serta kepada nilai-nilai edukatif secara sadar-tujuan. Pengarahannya harus melalui bimbingan yang berencana dan realistis.

Sumber:
Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 104-107.

Post a Comment

0 Comments