Pengadaan Instrumen Menurut Arikunto

AsikBelajar.Com | Apabila sudah tersedia instrumen yang terstandar, maka peneliti boleh meminjam dan menggunakan untuk mengumpulkan data. Beberapa instrumen yang sudah distandardisasikan antara lain: tes inteligensi, tes minat, tes kemampuan dasar (tes bakat), tes kepribadian, dan beberapa tes prestasi belajar.
Bagi instrumen yang belum ada persediaan di Lembaga Pengukuran dan Penilaian, maka peneliti harus menyusun sendiri, mulai dari merencanakan, menyusun, mengadakan uji coba, merevisi. Jika sesudah diujicobakan ternyata instrumen belum baik, maka perlu diadakan revisi sampai benar-benar diperoleh instrumen yang baik.

Prosedur yang ditempuh dalam pengadaan instrumen yang baik adalah:
1. Perencanaan, meliputi perumusan tujuan, menentukan variabel, kategorisasi variabel. Untuk tes, langkah ini meliputi perumusan tujuan dan pembuatan tabel spesifikasi.

2. Penulisan butir soal, atau item kuesioner, penyusunan skala, penyusunan pedoman wawancara.

3. Penyuntingan, yaitu melengkapi instrumen dengan pedoman mengerjakan surat pengantar, kunci jawaban, dan lain-lain yang perlu.

4. Uji-coba, baik dalam skala kecil maupun besar.

5. Penganalisaan hasil, ana|isis item, melihat pola jawaban peninjauan saran-saran, dan sebagainya.

6. Mengadakan revisi terhadap item-item yang dirasa kurang baik, dan mendasarkan diri pada data yang diperoleh sewaktu uji coba.

Dari pengalaman mahasiswa berkonsultasi, tidak sedikit pertanyaan dilontarkan oleh mereka mengenai jumlah seubjek uji coba. Dalam hal ini perlu dipertegas dahulu, apa tujuan uji coba instrumen yang akan dilakukan.

Ada dua macam tujuan uji coba dengan persyaratan jumlah subjek yang berbeda.
(1) uji coba untuk tujuan manajerial dan substansial, dan
(2) uji coba untuk tujuan keandalan instrumen.

Uji coba untuk tujuan manajerial dan substansial

Uji coba untuk tujuan pertama ini lebih menitikberatkan pada segi teknis. Peneliti menyebutkan tujuan uji coba adalah:

1. Untuk mengetahui tingkat keterpahaman instrumen, apakah responden tidak menemui kesulitan dalam menangkap maksud peneliti.

2. Untuk mengetahui teknik paling efektif.

Sebagai contoh misalnya peneliti menggunakan metode angket, peneliti mencoba beberapa cara:
a. Membagi angket kepada responden satu per satu sambil diterangkan tujuannya dan ditunggui sampei selesai.
b. Membagi angket kepada kelompok responden, dijelaskan tujuan dan garis besar isinya kemudian mereka mengisi bersama-sama tanpa ditunggui.
c. Menyerahkan angket kepada pemimpin responden agarditeruskan kepada responden.
d. Menyerahkan angket kepada responden tanpa disertai penjelasan dan diambil lain waktu.

Atau cara-cara lain lagi.
Peneliti mempertimbangkan dan mencoba beberapa cara, untuk kemudian dicermati hasilnya.
3. Untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan oleh responden dalam mengisi angket.

4. Untuk mengetahui apakah butir-butir yang tertera dalam angket sudah memadai dan cocok dengan keadaan di lapangan. Mungkin sekali ada butir yang sudah dimuat dalam angket tetapi ternyata tidak ada di lapangan, atau sebaliknya, ada usul-usul untuk tambahan butir baru karena di lapangan ada aspek tersebut tetapi belum termuat dalam angket.

Banyaknya subjek untuk uji coba dengan tujuan seperti ini tidak terlalu banyak menuntut persyaratan. Tingkat keterpahaman angket dapat diketahui dari beberapa subjek yang mempunyai tingkat pemahaman tinggi, cukup, dan rendah. Kalau subjek dengan tingkat pemahaman rendah sudah tidak keliru menangkap maksud instrumen peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa instrumen sudah baik.

Uji coba untuk tujuan keandalan instrumen, dijelaskan pada bagian berikut (klik disini), dengan pengertian bahwa keandalan sama dengan keampuhan.

Sumber:
Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 209-211.

Keyword Terkait:
Perumusan, penyusunan, prosedur pembuatan instrumen.

Post a Comment

0 Comments